Surat Untuk Februari

Teruntuk Februari yang kerap kali menyuguhkan puisi bersajak elegi.
Atau untuk diriku sendiri yang terkepung memori di bulan Februari.

Sampai kapan kau terus seperti ini?
Menyelami pilumu seorang diri
Tanpa ada yang mau peduli

Apa kau tak mau berhenti?
Untuk terus menyiksa dirimu sendiri
Hati mu sudah runtuh setengah mati
Digerogoti rindumu yang tak tau diri

Kau seharusnya mengerti
Teman lelakinya tak hanya kau seorang diri
Tapi kau malah sibuk berimajinasi
Untuk setia sampai mati

Berhenti !!!
Sudah saatnya hatimu melakukan rotasi
Tentu juga evolusi
Karena hatimu layak dikagumi

Teruntuk Februari yang selalu saja menyajikan luka.
Atau untuk diriku sendiri yang tekekang sebuah fatamorgana.

Apa kau sudah lupa?
Bahwa kau bukan siapa siapa?
Sampai kau hanyut terbawa imajinasi yang selalu ada dikepala

Apa kau belum berputus asa?
Mengingat setiap peristiwa selalu berakhir sama
Sama sama berakhir duka
Tanpa sebuah balasan rasa

Tapi aku percaya!!! Bahwa kau akan selalu bisa
Keluar dari hal - hal yang membuat mu selalu kecewa
Dan kemudian kau akan semakin mendewasa
Tanpa ada sesal yang menjelma didalam dada.

Teruntuk Februari yang mungkin esok menjadi ceria.
Atau untuk diriku sendiri yang terlepas dari sebuah luka.
Terimakasih semesta
Untuk segala proses yang membuatku semakin mendewasa.


Arti Senyummu
Aku menulis ini,
Dengan harapan kau bisa membacanya
Lalu tersenyum seperti biasa

Kau mungkin tidak tahu
Seberapa kuat arti sepotong senyummu
Ada yang pelan pelan kubangun dari senyummu
Hingga pendar cahaya bulan tak mampu menutup
Segumpal rindu yang menggantung di depan mataku

Ada banyak kertas kertas yang kulontarkan begitu saja
Menjadi sebuah kegagalan yang kuterima
Ketika berharap hati bisa lebih tenang menulis puisi untuk rindu
yang tengah terbendung

Aku harus mengeluarkan semua isi kepalaku hari ini
Dan menghancurkan tembok yang kubangun di benakku yang tinggi
Sebab aku mulai kehabisan tempat untuk senyummu


Dan jika esok aku terlihat sedikit memaksakan diri
Ingatlah bahwa kehilangan senyummu bisa membuatku sebegitu gila
Maka tersenyumlah lagi untukku
Seperti seakan akan menjadi hari terakhir kita bertemu.


Tolong! Jangan bunuh sajakku

hati yang kosong telah menemukan titik tergelapnya

dan merasakan kegundahan yang tak terdeskripsikan.

kupandangi langit hitam dibawah atap teras Indomaret jalan terusan Surabaya,

belum puas kupandangi langit

teringat semua sajak yang telah tercipta karena senyumnya.

sajakk ku memiliki kehidupan,

ia bergerak menjalar kedalam hati yang bergetar,

ia mengalir deras bersama darah yang beredar,

ia bernafas seiring nafas yang kau hempas.

dan sekarang kemana sajak itu pergi?

ia mengering seperti daun gugur di yang terjatuh di siang hari

ia menjadi sumbang seperti syair yang tak bernada

ia terasing seperti gerimis ditengah gurun berpasir

ia mati bersama hati yang kau tinggal pergi

ya! sajak ini telah mati,

sama halnya hati ini,

lalu apa yang sekarang ada dalam diri?

tentu hanya rintih yang berdalih

hanya gelap yang tak berhuni

semua kosong tak ada isi

aku lebih memilih hatiku yang mati

ketimbang sajakku yang mati

karena dengan sajak semua akan hidup kembali

kau boleh bunuh hatiku

tapi tolong!

jangan kau bunuh sajakku


Malang, 4 Februari 2017
-ST-



ANAK KOS?
Kita hanya pelajar berkantong bolong
Yang terkadang masih sering omong kosong
Jangan kau berlagak sombong
Jika rekening masih sering kosong

Kita hanya seorang pengungsi
Yang tak punya gaji tinggi
Jangan sok punya gengsi
Jika dompet bukan kau yang mengisi

Kita seorang yang belum mapan
Yang setiap bulan masih mengharapkan kiriman
Jangan kau berlagak jadi jutawan
Jika makan saja masih sering dengan mie instan

Kita hanya anak kos
Berfikirlah seperti anak kos
Jangan sok jadi Bos
Jika pulkam saja masih minta ongkos

Kediri, 10 Jan. 17
-ST-