SELAMAT TINGGAL
Aku berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
Dalam hatiku?
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah.....!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal.....!!
Selamat Tinggal....!!
(Chairil Anwar)
Pada kesempatan kali ini aku akan membahas tentang puisi karya Chairil Anwar. Puisi ini berjudul “Selamat Tinggal”. Semoga pembahasan ini dapat berguna bagi siapapun.
Sajak ini merupakan instropeksi kepada diri sendiri. Si aku melihat dirinya sendiri di depan cermin. Ternyata mukanya penuh luka, yaitu cacat-cacat, keburukan, atau kekurangan pribadi. Setelah berkaca si aku sendiri terkejut dan menanyakan kepada dirinya muka siapakah itu, kemudian (tiba-tiba) terdengar suara yang menderu, suara gemuruh dalam dirinya, yaitu gemuruh persoalan dalam dirinya, gemuruh pemikiran, angan-angan, cita-cita, harapan, dan sebagainya. Persoalan itu persoalan dirinya sendirikah? Benarkah itu suara batinnya? Adakah suara itu penting diperhatikan, atau hanya suara iseng-iseng saja, seperti angin lalu yang tiada artinya?
‘Berkaca’ berarti melihat muka sendiri, melihat keadaan diri sendiri, melihat masalah-masalah sendiri, melihat cacat, kejelekan dan kekurangan diri sendiri.
‘Muka penuh luka’ berarti keadaan diri yang penuh cacat. Keadaan diri yang penuh kejelekan, kekurangan, kesalahan, bahkan juga dosa-dosa
‘Kudengar seru menderu’ memberi efek mengerikan, menakutkan, yaitu suara dalam batin yang seru menderu itu begitu menakutkan. Yang bersuara seru menderu dalam batin itu adalah persoalan-persoalan, atau mungkin juga rasa bersalah, kegelisahan, dan sebagainya yang mengerikan.
‘Angin lalu’ ialah sesuatu yang tidak berarti, tidak bermanfaat, atau hanya remeh saja.
‘Lagu lain’ adalah suara-suara lain, pendapat-pendapat yang lain, atau persoalan-persoalan yang lain. Diumpamakan sebagai ikan atau binatang yang menggelepar-geleapar kesakitan. Jadi, sesuatu yang minta diperhatikan, sesuatu yang konkert kehadirannya.
‘Tengah malam buta’ ialah di tengah kegelapan yang pekat, yaitu di tengah persoalan-persoalan yang membingungkan, di tengah kesukaran-kesukaran dan penderitaan.
‘Segala menebal’ segala persoalan itu menjadi tebal, bertimbun-timbun, menjadi lebih konkert.
‘Segala mengental’ segala persoalan yang tadinya samar-samar itu setelah dirasa-rasakan, diperhatikan sunguh-sungguh, menjadi kental, bertokoh, menjadi keras.
‘Selamat Tinggal’ si aku membiarkan persoalan-persoalan, meninggalkan seperti adanya untuk dipecahkan sendiri oleh para pembaca, atau oleh para pribadi yang mempunyai persoalan, sesuai dengan situasinya masing-masing.
Dalam sajak ini kekurangan diri sendiri yang abstrak itu seolah-olah dapat dilihat secara konkret. Kalimat ‘Ini muka penuh luka Siapa punya?’ merupakan penyimpangan dari tata bahasa normatif. Hal ini dilakukan untuk ekspresivitas dan untuk mendapatkan irama yang merdu liris, menjadikan padat.
-ST-

0 komentar:
Posting Komentar