Unspeakable Love -Alnuha-

No Comments

Unspeakable Love - Oneshoot (cerpen)
Author : Alnuha Alvi | @Alnuhaalvi on twitter
Tittle     : Unspeakable Love
In story : Alvi, Mr. Necktie, Reta, Handi
Genre : romance, sad
Catatan :

Hai hai ! jumpa lagi di karangan saya :D oh iya, nama peran utamanya disini emang Alvi yaitu nama saya sendiri. Tapi dengan sangat mohon, tolong di rubah presepsinya kalo ini adalah kisah nyata. Karena ini adalah karangan :D oke? Sekali lagi. Ini KARANGAN. Ini adalah fiksi penulis, oke? Danmohon izin buat Julang Abdala temen sekelas saya waktu di kelas IX-E dulu aku pake fotonya buat foto di cerpen ini. Boleh kan? Boleh dong, oke makasih :D Em, kayaknya saya kebanyakan ngemeng, jadi langsung aja ya ^^ ENJOY IT ^^
Wait.. wait.. let’s make a deal to don’t be flamers, plagiator, and cheaters. Deal? maaf yang belum ke-tag :)

Unspeakable Love
Alvi melangkahkan kakinya melewati gerbang sekolahnya dengan langkah ringan. Menjamah setiap udara yang terlewat.
“everything will be allright.” Gumamnya lirih tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Alvi meneruskan langkahnya menyusuri paping-paping sekolah yang masih lembab. Pukul enam kurang sepuluh menit. Pagi yang masih sangat sepi. Menandakan pelajar yang rajin, bukan?
Alvi menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya dan duduk di kursi-kursi depan kelas. Meluruskan kakinya dan mengela nafas panjangnya seketika. Entah pa yang memberatkan fikirannya, sepertinya dia memang tidak pernah berniat untuk segala yang dilakuknnya.
lima belas menit berlalu, sepertinya Alvi menyadari ada yang duduk di sampingnya. Alvi terbangun dari tidur pendeknya sehingga dengan bert harus membuka matanya.
“kimia mu udah?” Arga menyapa dengan senyum kecil dengan melontarkan satu pertanyaan yang cukup tidak enak di dengar.
“oh, kimia. Belum. Paling nanti cuma di bahas bareng, jadi ada alasan lebih buat gk ngerjain PR itu selain alasan males.” Jawab Alvi dengan wajah datar dan menambahkan aksen lesunya.
Hening. Mungkin Arga uga sudah kehilangan moodnya untuk berbicara dengan orang seperti Alvi. Istilah anak mudanya “Hidup enggan, mati tak mau.” Lalu kursi berderet yang di duduki oleh dua pelajar kelas X-B ini seperti terangkat sedikit, menandakan salah satu dari dua pelajar itu telah beranjak dari tempat duduk. Arga ternyata memutuskan untuk meninggalkan Alvi menikmati dunianya sendiri.
 Satu demi satu penghuni sekolah telah berdatangan sehingga suasana menjadi lebih ramai. Begitupun alunan lagu-lagu dari speaker sekolahan sudah berbunyi menambah suara yang terdengar di telinga. Begitu pula penghuni kelas yang semakin gaduh dengan kegiatan turun-temurun dari nenek moyang. Tentu saja tradisi contek-contekan PR.
Setelah menegakkan posisi berdirinya, Alvi menuju pintu dan memasuki kelas yang dari luarpun sudah terdengar sangat-sangat ramai. Dan inilah yang hampir setiap hari terjadi jika jam sudah menyentuh angka setengah tujuh.
“eh aku belum loh, bukuku mana? Masih kurang satu nomer lagi ini!”
“loh heh, nyontek dong! Pelit banget sih!”
“Mana PRnya yang udah selesai tadi, nulisku belum selesai loh!”
Mungkin kelas ini lebih mirip dengan pasar loak. Dan hal ini terjadi hingga tiga puluh menit mendatang. Hingga guru mendatangi kelas, memberi salam, dan membahas materi-materi yang entah kenpa sangat sulit dicerna dan sama sekali tidak menarik bagi Alvi. Semua itu seperti, racun tikus. Mungkin karena dia tidak pernah menyukai dan berniat menyukai semua ini.
*Skip*
Tidk usah dijelaskan, waktu-waktu pelajaran adalah hal-hal yang sangat membosankan jika di tulis. Jadi tidak usah dibahas. Sepakat?
Alvi hendak melangkahkan kakinya untuk pulang, tapi hujan menghalangi langkahnya untuk segera pulang. Dan lagi-lagi Alvi harus menunggu hujan reda di atas bangku depan kelas sambil mengotak-atik handphone-nya. Entah apa yang dilakukan. Bahkan pesan masuk saja tidak ada.
Sekolah sudah sangat sepi, beberapa orang memutuskan menembus hujan untuk segera pulang. Dan sebagian besar sudah pulang beberapa saat lalu. Sekolah nyaris seperti kota mati. Entah karena sekolah itu mematikan, atau hanya perasaan Alvi saja bahwa bangunan-bangunan disini mengerikan. Sekali lagi, karena ia memang tidak pernah suka dan berniat menyukai semua ini.
“hujan bukan teman yang baik. Dingin, basah, bising, becek dimana-mana. Ihh!” Alvi mulai mendengus lagi dan menutupkan jaket tebalnya lebih rapat.
“mau pulang?” suara yang terdengar sedikit berat menyadarkan Alvi dari dunianya.
“Em, iya kak, eh.. maksutku.. iya.” Suara Alvi terdengar kaget dan berantakan menjawab pertnyaan yang cukup singkat tadi.
“ini payung, pake aja.” Lontar pria yang tiba-tiba berdiri di dekat Alvi sedetik kemudian dengan senyum ringnnya yang sangat manis. Bisa diulang lagi? Sangat manis.
“em, eh.. apa? Maksutnya?” Alvi masih mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan apa yang terjadi.
“iya, ini payungnya Pak Dio yang dipinjemin ke saya. Di pake aja. Daridapa cewek sendirian nunggu ujan reda. Saya bisa nembus ujan. Kan cowok.” Jawab pria yang berdiri tepat di sebelah kiri Alvi dan masih bersama dengan senyum yang sama sekali tidak pudar. Alvi menerima payung yang di ulurkan oleh pria itu dan melangkah cepat di bawah payung biru transparan yang baru dipinjmkan oleh seorang kakak kelas. Hingga di depan gerbang, Avanza berwarna silver sudah menunggu di tepian gerbang. Alvi menggapai pintu mobilnya segera dan berlalu meninggalkan gerbang sekolahan menjauh  menembus hujan.
Pukul empat sore, dan yang dilakukan Alvi hanya diam di kamar bersama laptop dan handphone berasma kertas-kertas sketsa yang berceceran di atas meja belajar, lantai, hingga ranjang  berwarna pastelnya. Mengotak-atik twitter, facebook, blog, dan menyetel lagu-lagu Taylor Swift sekeras-kerasnya melawan suara hujan yang masih saja deras hingga hampir setengah jam lebih.
Alvi menengkurapkan tubuuhnya dengan tangan yang masih terus mengikiskan hitam pensil ke tas lembar-lebar kertas sketsa berwarna putih bersinya. Ia mulai membayangkan kejadian satu jam yang lalu di depan kelas. Dan dia fikir, kakak tadi memiliki wajah yang sangat teduh dan senyum yang manis. Hingga di lupa satu hal. Kemana ia akan mengembalikan payung ini? sedangkan dia tidak tahu kelas kakak yang tadi mendatanginya. Alvi menghela nafas beratnya lagi
*Skip*
Pagi yang cerah. Alvi menuruni tangga dengan sneakers cokelatnya hingga menimbulkan suara gedugan yang menggema hingga terdengar oleh telinga.
“Ma, mau keluar sama Reta. Diajak liat basket di sekolahan.” Pamit Alvi pada Mama  yang terlihat sibuk bersama bunga yang baru saja datang dari penjual bunga langganannya.
“Loh, la Retanya mana?” tanya Mama dengan beberapa kali mengalihkan pandangannya pada Alvi.
“aku yang bawa motor, Ma.” Jawab Alvi yang perlahan menghampiri Mama dan meraih tangan Mama untuk berpamitan.
“Hati-hati. Obatnya juga dibawa.” Sela Mama kemudian sembari berlalunya bayangan Alvi dari pandangan.
***




Minggu pagi yang sejuk. Menyeruakkan aroma khas hujan yang masih tampak dari bayang-bayangnya semalam. Alvi dan Reta melangkah bersama setelah memarkirkan motor di parkiran sekolahan. Pelajar senasib ini melangkah bergandengan dengan canda tawa masing-masing yang menemani jalan mereka menuju lapangan bola basket sebelah utara. Reta dengan celana pensil tiga per empat berwarna abu-abu kebiruan dan kaos oblong kuningnya terlihat cuek dan elegan dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Alvi yang berjalan santai dengan kaos oblong putih dan celana pensil panang berwarna serupa dengan Reta dan rambut panjangnya yang diikat cemol terlihat seperti ‘Sepasang pelajar senasib’ yang melangkah bersama.
“Tuh pangeran mu dateng. Siap-siap jadi kambing congek deh disini.” Dengus Alvi malas ketika melihat Handi berlari-lari kecil menuju ke arah mereka – Alvi dan Reta.
“ya inilah satu-satunya alasanku betah disini, Al. Mohon maklum adanya. Hehe.” Jawab Reta menanggapi pernyataan Alvi dengan cengar-cengir cengengesan.
“Ndi, kok rame sih? Ada yang pake seragam abu-abu putih segala? Emang acaranya apa aja sih?” Tanya Alvi ketika melihat dua orang perempuan berjalan bersama ke arah gerbang dengan menggunakan seragam sekolah – abu-abu putih.
“oh itu. anu.. ahh! Ekstra Fotografi. Ada seminar di aula gitu sih setauku.” Jawab Handi setelah berusaha mengingat-ingat dan diikuti dengan bibir Alvi dan Reta yang membentuk lingkaran yang menandakan aku-mengerti.
“Oh iya, kalian duluan deh. aku mau ke counter depan. Mau beli pulsa.” pamit Alvi lalu berlari kecil menuju ke luar pagar setelah menepuk bahu Handi dan melambaikan tangan.
Alvi memperlambat langkahnya. Yang semulanya berlari kecil, menjadi melangkah pelan. Ia mengitarkan pandangannya pada beberapa orang yang lewat. Lalu, tampak seorang pria yang tidak asing baginya. Pria itu berjalan sedang dengan dasi abu-abu di lehernya yang sedang disimpulkan. Ia menatap dasinya bergantian dengan pandangannya ke arah depan. Pria itu berjalan bersebrangan dengan Alvi, dengan arah yang sama menuju keluar pagar.
“Em, kakak yang kemarin ya?” sapa Alvi lalu berlari kecil ke arah pria tersebut dan mensejaarkan tubuh mereka berdampingan.
“Oh, kamu Al. Yang dua hari lalu ketemu di depan kelas waktu hujan, kan?” kata pria itu kemudian setelah berhasil mengingat disertai dengan senyum lebarnya. Dan benar saja, senyum itu tidak berubah. Masih sangat manis. Alvi menganggukkan kepalanya dengan menghadapkan wajahnya pada pria itu. meskipun sedikit menatap ke atas karena tinggi pria itu yang lebih tinggi dibanding Alvi.
“Kamu kontak saya aja, jadi saya bisa datengin ke kelas kamu.” kata pria itu lagi. Dan masih dengan senyumnya.
“ini nomor saya.” Kata pria itu dengan tersenyum sambil menyudurkan sepotong kertas kecil yang telah bertuliskan nomor handphone-nya. Lagi-lagi, Alvi masih diam dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“em, ikut seminar fotografinya itu? anak fotografi ya?” buka Alvi dengan sebuah pertanyaan.
“em, iya dek. Mungkin aktif terahir ya ini, soalnya udah kelas tiga juga. Habis ini udah gak bisa aktif ekstra lagi. Tapi habis ini mau ikut sparing basket. Lihat ya?” Jawab pria itu mengiyakan dan menambahkan.
“loh, anak basket ya kak?” senyum Alvi mengembang ketika mendengar apa yang baru saa diucapkan pria itu tadi. hatinya tiba-tiba menghangat. Seperti ada kalimat yang muncul di fikiran wah, ada peluang nih.
“iya. Kamu temennya Handi, kan? Saya sering liat kamu.” kata pria itu lagi. Masih dengan senyumnya. Entah kenapa, senyum Alvi mengembang saat itu juga. Ia merasa diperhatikan. Ia merasa seperti ada kupu-kupu yang mengepakkan sayap di dalam dadanya. Alvi hanya tersenyum dan melanutkan langkahnya.
“eh, kalau begitu saya ke depan dulu ya kak?” pamit Alvi ketika itu juga. Sepertinya ia takut salah tingkah jika meneruskan perbincangannya dengan kakak kelas itu.
Dua puluh menit kemudian, Alvi sudah besama dengan Reta di deretan bleachers paling depan. Dan sedetik kemudian, pertandingan dimulai. Reta melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya pada Handi. Tentu untuk memberi semangat untuk pangeran barunya itu.
Ya, Reta baru saja pedekate dengan anak kelas XI-A2 yang namanya Handireksa Aditya. Menurut Reta, Handi adalah pangeran tanpa sayap yang dia sukai semenjak menjalani MOS di sekolah menengah atas ini – karena kebetulan Handi adalah salah satu panitia MOS perwakilan dari Ekstra Basket. Perawakannya tinggi tegap, berbadan sedang dan berkulit terang. Wajahnya chinese dan bersih dengan poni di sebelah kiri. Dia kapten basket di tim sekolah. Tidak terlalu pintar, tidak terlalu romantis, tapi memang seorang pria yang keren. Dan masa Reta dengan Handi untuk pedekate mereka mungkin hanya sekitar satu minggu. Lalu mereka jadian sebagai salah satu pasangan popular di sekolahan. Tidak heran, karena Handi adalah salah satu pria faforit di sekolahan.
Alvi mengitarkan pandangannya di sekitar lapangan basket. Sepertinya dia mengingat ada pria yang ditemuinya tadi mengikuti ekstra basket dan akan ikut dalam pertandingan.
“hayo! Nyariin siapa nih..!” sindir Reta ketika menyadari teman di sebelah kanannya sedang sibuk melihat orang demi orang di dalam lapangan basket. Sepertinya dia sedang mencari seseorang.
“nggak. Tadi ketemu kakak kelas yang kebetulan emang baru kenal sih. Katanya ikut basket.” Jawab Alvi terang-terangan pada Reta dengan nada datar. Dengan sedikit memendam rasa hangat yang menjalari ruang hatinya ketika mengingat kakak kelas yang tadi di temuinya di sekitar taman depan sekolahan.
“ciyee ciyee ciyee.” Sorak Reta mengolok-ngolok Alvi dengan menyenggol-nyenggolkan bahunya ke bahu Alvi cengengesan.
“apaan sih – “ mau juga Alvi menampik olokan dari Reta, kakak kelas yang tidak akan disebutkan namanya dalam cerita ini masuk ke lapangan dengan kaos basketnya dan sepatu hitam-buru dengan cool. Kedua bola mata Alvi mengikuti gerak pria itu berjalan. Nomer punggung tiga.
“meskipun tidak sedang senyum, kesan manis itu tidak pernah hilang.” Batin Alvi dalam hati.
Selama pertandingan, mata Alvi tidak pernah lepas dari pandangannya pada pria itu. sebuah tahi lalat kecil di samping mata kanannya menambah aksen tampan. Matanya terlihat indah, wajah oriental, bersih, dengan poni ke kanan, memberi kesan cool. Bahkan hingga pertandingan selesai, Alvi seperti enggan menginggalkan sekolahan. Mungkin lebih tepatnya bukan sekolahan, tapi Alvi enggan melepaskan pemandangan indah di sekolahan ketika itu.
****
Alvi menelungkupkan badannya di atas kasur pastelnya. Mengotak atik kertas yang sehari lalu didapatnya dari kakak kelas yang selalu menimbulkan semburat hangat di dadanya itu. dan ketika ia memikirkan tentang kakak kelas itu, Alvi akan meraih helai demi helai kertas sketsanya, dan menggoreskan garis demi garis di atas lembar putih kertas-kertas sketsa miliknya. Belum sketsa gambarannya selesai, Alvi teringat lagi setelah melirik kertas yang bertulis nomor handphone kakak kelas yang diberikan sehari yang lalu.
“Sms gak ya?” Lirihnya pelan sambil menggigit kecil bagian bawah bibirnya.
“nekad!” lirihnya lagi sambil mendudukkan posisinya dan meraih handphone yang tergeletak di atas meja belajar yang letaknya tepat di sebelah kanan tempat tidurnya.
Send to :  +62875970*****
Em, maaf. Aku Alvi, kak.
Sent!
“sip!” pekiknya kegirangan.

messagefrom : +62875970*****
Oh iya kamu cewek waktu hujan itu ya? Hai Al
Alvi hampir melonjak kegirangan mendapat balasan tepat sesaat setelah pesan darinya terkirim. Dan lagi, jantungnya mungkin sekarang sedang bereaksi dengan perasaannya sehingga mempercepat denyutnya yang tidak beraturan.
Send to : +62875970*****
Ah, iya kak. Em besok payungnya saya bawa. Saya tunggu pulang sekolah di gazebo bagian selatan
Message from : +62875970*****
Oke Al. Semoga besok gak hujan, jadi bisa ketemu J
Alvi hampir menjerit sekuat kuatnya. Tingkat kegirangannya saat ini mungkin hampir mencapai level tertinggi. Maklum memang, mungkin perasaan ini juga akan terjadi pada remaja yang mendapat tanggapan positif dari orang yang ditaksirnya.
Sekali lagi Alvi menatap payung yang di gantungnya di belakang pintu kamarnya dan kemudian memalingkan pandangannya pada langit-langit kamarnya. Alvi memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin dari luar yang masuk dari sela-sela ventilasi kamar. Merasakan dingin yang menggerayangi tubuhnya yang terbalut selimut tebal, mendengarkan senyap malam bersama gemericik sisa-sisa hujan yang tertinggal. Alvi memejamkan matanya dan terlelap dalam senyumnya yang menyungging bahagia. Hingga tanpa ia sadari, ia tidak lagi membenci hujan. Hanya karena seorang pria yang membuat hujan menjadi hal paling romantis yang pernah ada.

****
Alvi mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung dari tempatnya terduduk. Sekali-kali mengitarkan pandangannya pada sekeliling untuk memastikan kakak itu sudah datang atau belum. Dan sekali lagi Alvi menatap sebuah payung yang tersandar di sebelahnya dengan seksama.
“Em, maaf dek. Nunggu lama ya?” suara tidak asing itu mengagetkan Alvi dan sontak mengangkat kepalanya dan menghadap ke depan.
“eh, lumayan.” Sahut Alvi kemudian dengan menyunggingkan senyum kecil penyambut kedatangan pria yang ditunggunya.
“eh, ini kak payungnya. Makasih loh buat pinjemannya.” Sambut Alvi sambil menyambar payung yang ada di sebelahnya dan memberikan payung tersebut pada pria yang duduk berhadapan dengannya.
“oh, iya iya. Sama-sama.” Jawab pria itu kemudian dengan senyum lembut yang disunggingkan. Lagi.
Hening.
“kok diem aja dek, crita-crita atau gimana gitu? Tanya-tanya?” pria itu membuka bicara mecairkan suasana senyap yag tiba-tiba hadir.
“em, iya, kak. Rencana mau nglanjutin ke universitas apa?” tanya alvi kemudian menuruti kata-kata pria itu.
“Do’ain aja semoga ketrima SNMPTN di UGM, dek. Kamu nanti habis dari sini mau nglanjutin ke mana?” jawab pria itu dengan satu pertanyaan yang mengikuti.
“sama kak, UGM jurusan psikolog. Do’ain juga ya.” Jawab Alvi masih dengan senyum yang entah tanpa sebab  ikhlas ia sunggingkan dan pertahankan sejak kedatangan pria itu.
Percakapan antara mereka terjadi cukup panjang hingga akhirnya Alvi berpamitan karna jemputannya sudah menunggu di gerbang. Alvi jadi tahu tentang kelas apa kakak kelas bertempat, dimana rumahnya, apa hobbynya, dan lain-lain. Pria itu juga tahu, bahwa mereka sama-sama berkeinginan di universitas yang sama, meski pria itu tidak berkeinginan ke jurusan psikolog, namun ke jurusan kedokteran. Pria itu juga tahu, dimana tinggalnya Alvi, kegemarannya, bahwa alvi membenci hujan karena akan sering terkena hipotermia dadakan ketika hujan turun, dan asmanya akan kambuh ketika itu bersamaan dengan hipotermianya. Dan satu lagi, dia juga tahu kalau Alvi tidak pernah berniat untuk sekolah di SMA ini. dia sebenarnya ingin sekolah di Bogor dan tinggal bersama kakaknya yang kuliah di sana. Tapi ayah dan ibunya tidak mengizinkannya dengan alasan Alvi adalah seorang anak gadis dan tidak boleh terlalu jauh dengan orang tua. Karena itu dia sama sekali tidak berminat untuk sekolah ini dan segala sesuatu di dalamnya.
Tapi ada satu hal yang tidak diketahui oleh pria itu tentang Alvi. Bahwa presepsi Alvi untuk membenci bersekolah di SMA ini mulai berubah. Dan perubahan itu karna dia – kakak kelas itu. bahwa Alvi diam-diam menjadi seorang secret admirer dari kakak kelas itu. bahwa Alvi sering melupakan hipotermianya ketika mengingat kakak kelas itu. bahwa dia sering mengalami insomnia parah ketika menggambar sketsa-sketsa pertemuan antara Alvi dengan pria itu. bahwa Alvi tidak lagi membenci hujan karena pria itu dan bahkan selalu berharap bahwa hujan akan datang dengan deras dan lama ketika bertemu dengan pria itu. dan semua itu, karena Alvi menyadari bahwa Alvi menyukai kakak kelas pemain basket dengan nomer tiga.
****
Hujan biarkan rintikmu turun untuk kali ini lagi
Biarkan aromamu menjadi hiasan dalam melodi rasa yang terbentuk
Hujan biarkan desis angin dingin yang kau berikan menghembus menyelimutiku
Mendekap sekat antara aku dengannya
Karena aku menyukaimu, semenjak rasaku terbentuk untuknya

Sebulan sudah setelah pertemuan Alvi dengan kakak kelas itu di bawah rinai hujan sabtu sore lalu. Dan hingga saat ini, sketsa-sketsa tentang orang yang sama masih bertebaran di kamar Alvi. Dan yang pasti, perasaan tentang orang yang sama masih tak bergeser dari tempatnya tumbuh.

“Ta, gimana kalo aku ngaku ke kakanya itu kalo aku suka sama dia?” ucap Alvi pada Reta ketika sedang berdua di kantin bagian utara.
“emm, yakin? Udah yakin kalo dapet signal positif dari dianya?” jawab Reta sembari menghentikan aktifitas makannya.
“aku gak tau ya orangnya suka juga atau enggak. Tapi setiap aku nanyak, dia gak cuma njawab, dia nanyak balik dan sering tanyak-tanyak soal aku. Orangnya juga nyapa terus waktu ketemu aku. padahal kalo di liatin dia gak sering senyum kalo lagi jalan atau ngobrol sama orang. Tapi dia selalu senyum kalo lagi ngobrol sama aku. orangnya juga sering ngajak ketemu di luar sekolah buat makan/ngobrol bareng. Dan aku kan udah pernah cerita soal itu ke kamu, Ta.” Terang Alvi panjang lebar dengan  berusaha meyakinkan sahabatnya.
“kamu dulu kan juga yang nyatain suka kamuya dulu, Ta.” Kata Alvi menyambung sambil menampakkan wajah paling kusutnya.
“iya deh iya. Keep fighting deehh!” jawab Reta kemudian mengiyakan dan memberi semangat pada sahabat yang ada di sampingnya.
Sesaat ketika Alvi dan Reta tenggelam dalam perbincangan mereka, tampak seorang pria berjalan bersama Handi. Bisa diditebak, itulah kakak kelas yang disukai Alvi. Dia berjalan dengan dasi abu-abu yang menggantung di lehernya. Pria itu terlihat sibuk menyimpulkan dasi yang tergantung di lehernya. Sedetik kemudian, Handi menyenggol pria itu untuk menoleh ke arah Reta dan Alvi. Pria itu tersenyum. Senyuman itu tepat fokus pada tatapan mata yang lurus ke arah mata Alvi. Pria itu bersama Handi menghampiri dua orang wanita yang sedang duduk asyik di kursi pembeli kantin.
“wah wah.. lagi asik nihh! Gabung dong.” Kata Handi menyapa sambil menarik sebuah kursi untuk didudukinya dan disusul oleh pria yang bersamanya.
“abis dari mana nih berdua?” tanya Rea sesaat setelah Handi dan pria itu duduk.
“habis kumpul basket tadi. trus ke kantin buat cari minum.” Jawab Handi.
Situasi menadi cair setelah itu. Handi dan Reta tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Sedangkan Alvi bersama kakak kelas yang disukainya juga berkelana dalam perbincangan mereka. Kini, sekolah bukan lagi neraka kecil yang biasa disebutkan Alvi dalam Diary-nya.
Mr Necktie,
I love to see you with your necktie
I love to see you walked icy with the air around you
My heartbeats faster
My breathe was stopping
Cause everytime you were there,
Everyone like disappeared
Because of my eyes only could to catch you
Mr. Necktie
Look at me

****
“positif atau negatif nanti, aku harus ngomong dan dia harus tau. Positif atau negatif nanti, malem ini rahasia ini udah harus kebongkar.” Alvi melirih mantap ketika hendak memencet tombol-demi tombol di handphone-nya. Yang pasti, malam ini Ali sudah bertekad bulat untuk menyatakan perasaannya pada kakak kelas yang disukainya.
Namun belum juga sempat mengetik, handphone Alvi bergetar. Ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mengecek pesan yang masuk.
Kakak itu?
Kakak itu?
Message from : +62875970*****
Nggun, aku besok ke Jogja. Maaf minggu kemarin nggak jadi. Aku belum ada waktu. Tapi besok aku pasti ke Jogja. Happy birth day sayang. Tunggu aku besok. Dear Anggun, I love you.

Deg!
Apa maksut ini? belum selesai menata detak jantungnya, handphone Alvi bergetar panjang.
Panggilan masuk!
Tertulis di depan layar
Mr.Necktie

“Halo.” Suara Anggun menyapa.
“Iya hallo. Dek Al.” Suara tegas itu terdengar panik.
“maaf, tadi salah kirim. Harusnya ke Anggun. Pacarku di Jogja. Maaf ya?” terang pria itu terdengar masih panik.
“oh, iya.” Jawab Alvi beberapa saat kemudian setelah ia mencerna kata-kata yang baru saja di dengar.
Tiba-tiba guncangan hebat terjadi pada detak jantungnya. Alvi bingung tentang apa yang harus dilakukan.
“Oh, pacar kakak di Jogja? Long distance ya? Salam happy birth day ya buat kak Anggun.” Alvi berkata dengan berusaha mengatur suaranya yang tiba-tiba bergetar. Ia tiba-tiba mematung saat itu juga.
“iya dek. Aku sama dia long distance. Makasih ya? besok aku sampaikan ke dia karena kebetulan besok bakal izin dari sekolah mau ke jogja. Kebetulan hari ini dia lagi ulang tahun – “
Klik!
Alvi membanting handphone-nya saat itu uga di aas ranjang. Mematikannya dan duduk bersandar pada tembok. Tubuhnya terasa sangat lemas. Harapannya runtuh seketika itu juga. Dia jadi tahu kepada siapa dia berharap selama ini. alvi menenggelamkan wajahnya di atas lutut yang dilipatnya dan tangan yang dilingkarkan pada kedua kaki yang dilipatnya. Kedua mata yang semula berbinar-binar penuh semangat kini redup dan memanas menghasilkan bulir-bulir bening yang mengalir deras. Kedua bahunya terguncang keras. Baru kali inilah ia merasakan sakitnya patah hati. Menyesapi rasa pahit yang ditelannya bulat-bulat di malam yang sangat memukulnya kencang. Harapan itu, LENYAP.


****
Alvi melangkah menyusuri koridor sekolah dengan tegap. Dua hari yang lalu ia telah kehilangan harapannya dan memutuskan untuk tidak menyatakan perasaannya. Kini suara langkahnya menggema. Ia mengikuti arah koridor sekolah menuju ke arah lapangan luas di sebelah timur lapangan basket. Di sore yang lembab ia menegakkan kakinya untuk berdiri kembali. Kemudian, ia menghentikan jejak langkahnya dan mulai berdiri mendongak. Alvi membiarkan rambut panjang yang dibiarkan terurai melayang terkikis angin sore yang sepoi. Ia mengangkat kepalanya dan menyapukan pandangan ke seluruh penjuru lapangan yang sangat luas. Ia memejamkan matanya. Membiarkan dingin udara dari sisa-sisa hujan itu mendekapnya dan masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Ia tidak lagi membenci udara dingin.
“everything was over.” Lirihnya dalam hati dengan menyunggingkan senyum terikhlasnya. Lalu menghela nafas yang sangat berat untuk dihembuskan keluar.

Mr. Necktie
Now I see you with a different feeling
Knowing you smiled at me was a beautiful thing before
But now it is the biggest pain ever
Knowing you with your necktie was always makimme smile
But now i cry to see you walking with that
Mr. Necktie
I have to say thanks to teach me what pain is
I have to say thanks to teach me what missing is
Now let me save you safe in my heart
Now let me be your secret admirer in silence
Let me see you with my own mien
Mr. Necktie
You are my unspeakable love
Thanks to gimme a new world
Thanks to gimme one colour more
Mr. Necktie
You are my unspeakable love
You will never know
But your name is written forever here

Sumber:  https://www.facebook.com/notes/544422935643071/

0 komentar:

Posting Komentar